"Maaf, saya tidak merokok."
Jawaban ini serasa sudah menjadi template ketika ada yang menawarkan rokok kepada saya. Sudah tak terhitung berapa kali saya menolak, tapi tetap saja, setiap kali bercengkrama dengan kenalan baru yang perokok, selalu saja ada penawaran yang sama. Barangkali karena secara fisik bibir saya berwarna hitam sehingga kebanyakan orang mengasumsikan bahwa saya juga seorang perokok. Namun ketika saya jelaskan bahwa saya tidak merokok, beberapa dari mereka seakan tidak percaya, bahkan ada yang memberikan pertanyaan lanjutan.
"Tapi pernah merokok?" tanyanya, seakan menjadi pria bukan perokok adalah sebuah keanehan.
![]() |
| kebiasaan_perokok_membuang_putung_sembarangan (doc. pribadi) |
Pernah suatu hari selepas Shalat Ashar berjamaah di musholla kantor lantai 5, salah seorang teman saya ada yang bertanya, "Kenapa kamu tidak merokok?" Saya katakan bahwa saya memiliki 7 alasan yang tidak mungkin saya langgar, sebab sudah menjadi 7 lapis benteng pertahanan yang kokoh.*) Namun saat itu saya tidak menyebutkannya. Sebab si penanya juga tidak membutuhkannya. Diberitahu atau tidak diberitahu, tidak akan mengubah apapun dalam dirinya. Karena dia memang tidak ada rencana untuk mengubah kebiasaannya merokok.
1. Kekuatan Identitas “Saya Bukan Perokok"
Identitas yang selalu saya tancapkan dalam diri saya adalah "Saya Bukan Perokok." Identifikasi diri ini sangat penting. Sebab saya berhasil menancapkan jati diri saya pada himpunan yang berbeda dari perokok. Ibarat rumah, saya tinggal berseberangan dengan rumah perokok. Sehingga tidak mungkin saya masuk ke rumah yang salah.Identitas sebagai "Bukan Perokok" akan berpengaruh pada kebiasaan-kebiasaan kita. Secara naluri pasti akan menjauhi kebiasaan orang-orang yang merokok. Seperti membeli rokok, menyimpan rokok dan korek api di dalam tas, mendatangi store-store vape, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya.
Meskipun identitas "Bukan Perokok" tidak akan menjauhkan dari pergaulan dengan orang-orang yang merokok, tapi identitas tersebut akan membuat dirinya tetap merasa berbeda. Setidaknya berbeda secara pemikiran. Sehingga, ibarat pemilik rumah, tahu kapan waktunya pulang. Yaitu ketika ada yang berusaha untuk mempengaruhinya agar mengikuti kebiasaan merokok. Dirinya dengan mantap akan mengatakan, "Saya tidak merokok." Atau pada level tertinggi dengan tegas mengatakan, "Saya bukan perokok." Bukan sebatas mengatakan, "Saya sudah berhenti merokok."
Bagi orang-orang yang ingin berhenti merokok, kebanyakan merasa gagal sebab tidak siap mengubah identitas dirinya sebagai "Bukan Perokok." Niatnya hanya sampai pada keinginan untuk berhenti merokok. Sebatas mengubah perilaku saja, tapi tidak mengubah pondasinya tentang identitas siapa dirinya. Jika identitasnya belum berubah, masih merasa dirinya sebagai perokok, niscaya akan kembali pada himpunan para perokok. Mereka yang ingin benar-benar berhenti merokok, membutuhkan tekad yang kuat untuk mengubah identitas dirinya menjadi "Bukan Perokok." Dengan begitu rencana mengubah kebiasaan-kebiasaannya merokok akan lebih mudah dijalankan. Sebab dirinya akan memiliki kesadaran lebih untuk mengingatkan diri sendiri agar meninggalkan kebiasaan merokok—ketika muncul dorongan untuk kembali merokok.
2. Rokok Tidak Berpengaruh Apapun
Sewaktu saya masih SMP, setiap kali menonton televisi di jam 21:00 WIB ke atas, muncul iklan rokok yang begitu megah. Menampilkan pria terjun payung, mendayung perahu, menjelajahi hutan, bukit, lautan, dan pertualangan hebat lainnya. Selain megah ada juga yang ditampilkan dengan mewah, lewat seni dengan desain yang begitu indah, atau perfeksionisme eksekutif muda nan gagah di balik gedung-gedung megah dengan mobil-mobil mewah. Penggambaran ini hendak menyampaikan bahwa pria perokok memiliki jiwa petualang, tangguh, gagah, kuat, cerdas, keren, hebat dan berwibawa. Sayangnya, semua itu hanya bisa saya temui dalam marketing iklan.
Sedangkan dalam kehidupan realitas nyata, tidak ada hubungannya sama sekali antara rokok dengan pertualangan, ketangguhan, kegagahan, kekuatan, kecerdasan, keren, hebat dan berwibawa. Artinya, baik perokok maupun bukan perokok, memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki jiwa petualang, tangguh, gagah, kuat, cerdas, keren, hebat dan berwibawa. Dan hal tersebut bisa dimiliki bukan karena kebiasaan merokok atau tidak merokoknya.
Di sisi lain, saya justru sering menjumpai perokok yang tidak tahan untuk tidak merokok setelah selesai makan. Juga ketika suhu dingin, baik karena angin malam maupun angin hujan, perokok akan menyalakan rokoknya dan menghisap asapnya untuk menghangatkan badan. Apalagi jika dirinya sedang stress, rokok akan menjadi pendamping yang menemaninya berpikir, atau sekedar meredam emosi dan suasana hati yang sedang berkecamuk. Secara tidak sadar, rokok telah menjadi "tuan" bagi penghisapnya. Bahkan saya pernah mendengar seseorang berkata, "Lebih mudah menahan lapar seharian karena tidak makan daripada seharian tidak merokok."
Awalnya saya pikir ungkapan itu hanya bercanda. Namun ketika saya pindah di beberapa kota, ternyata di kota yang lain saya juga mendengar istilah yang sama, meskipun diungkapkan oleh perokok dengan gaya yang berbeda. Saya jadi berpikir, bagaimana mungkin saya yang sudah menjadi "tuan" atas diri saya sendiri, yang bebas berkehendak, akan memilih tunduk pada rokok? Sedangkan selama ini:
- Saya bisa merasakan kenikmatan setelah makan tanpa harus merokok, sedangkan para perokok merasa harus merokok dulu untuk bisa mendapatkan kenikmatan setelah makan.
- Saya bisa menahan suhu dingin tanpa harus merokok, sedangkan para perokok merasa harus merokok dulu untuk bisa menghangatkan badannya.
- Saya bisa mengatasi stress tanpa harus merokok, sedangkan para perokok merasa harus merokok dulu untuk bisa mendapatkan ketenangan.
- Saya bisa mendapatkan ide dan berpikir mendalam tanpa harus merokok, sedangkan para perokok merasa harus merokok dulu untuk bisa menangkap inspirasi.
Ada begitu banyak hal hebat yang bisa saya lakukan tanpa merokok, sehingga jika tanpa rokok saya bisa melakukan apapun, maka tidak ada alasan bagi saya untuk merokok. Sebab merokok tidak memberikan arti apapun bagi saya. Ketika ada yang menawarkan saya rokok, sama halnya seperti menawarkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi saya. Lalu bagaimana mungkin saya menerimanya?
3. Fakta Ilmiah Bahan Dasar Rokok
Hakikat manusia adalah berpikir. Berpikir membedakan manusia dengan hewan. Hewan berperilaku berdasarkan naluri (hawa nafsu) yang membawanya mendapatkan kebahagiaan, sedangkan manusia tidak hanya memikirkan perilakunya apakah mendatangkan kebahagiaan baginya atau justru membawa penderitaan. Tapi juga memikirkan apakah kebahagiaannya jangka panjang atau hanya jangka pendek dan berakhir penderitaan. Juga memikirkan apakah kebahagiaannya memberikan manfaat bagi dirinya atau justru merugikan dirinya di masa depan. Dan apakah perbandingan manfaatnya lebih banyak atau justru lebih banyak kerugiaannya. Serta memikirkan plus-minus lainnya sebelum memutuskan untuk melakukan suatu perbuatan.
Jika saya ditanya, "Kenapa tidak merokok?" Pertanyaan itu otomatis akan memunculkan pertanyaan bagi saya, "Apa itu rokok?" Lalu sebagai manusia yang berpikir saya akan mempertanyakan, "Apakah saya perlu merokok atau tidak?"
Namun sebelum keputusan memilih perbuatan merokok, pertanyaan dasar yang harus kita jawab adalah, "Apa itu rokok?" Sebab dalam perilaku manusia ada orientasi mencari kebahagiaan, sehingga kita wajib mengetahui: Sumber kebahagiaannya layak diperjuangkan atau tidak?
Berdasarkan hasil uji ilmiah, bahan dasar rokok mengandung:
- Nikotin: Nikotin adalah zat adiktif dalam tembakau yang menyebabkan ketergantungan. Meskipun nikotin sendiri tidak secara langsung menyebabkan kanker, ketergantungan yang ditimbulkan membuat perokok terus merokok dan terpapar bahan kimia berbahaya lainnya.
- Tar: Tar adalah substansi kental yang dihasilkan saat rokok dibakar. Tar mengandung bahan kimia yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker). Zat ini menempel pada paru-paru dan jaringan tubuh lainnya, menyebabkan kerusakan jangka panjang.
- Karbon Monoksida: Gas ini dihasilkan dari pembakaran rokok dan menggantikan oksigen dalam darah, yang dapat menyebabkan gangguan fungsi jantung dan otak. Paparan karbon monoksida dalam jumlah tinggi dapat berakibat fatal.
- Amonia: Amonia digunakan dalam rokok untuk meningkatkan efek nikotin, namun juga bisa merusak saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan.
- Formaldehida: Bahan kimia yang digunakan untuk pengawetan mayat ini juga ditemukan dalam asap rokok. Formaldehida adalah karsinogen yang dapat menyebabkan kanker.
- Aseton: Aseton, yang juga ditemukan dalam penghapus cat kuku, terdapat dalam asap rokok dan dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan kulit.
- Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (PAH): PAH adalah kelompok bahan kimia yang dapat menyebabkan kanker dan ditemukan dalam asap rokok. PAH dihasilkan saat tembakau dibakar.
- Zat Karsinogenik Lainnya: Rokok juga mengandung bahan kimia lain seperti arsenik, kadmium, benzena, dan banyak lainnya yang terbukti dapat menyebabkan kanker dan penyakit serius lainnya.
Dengan mengetahui bahan dasar rokok saja kita dapat menyimpulkan bahwa rokok berbahaya bagi tubuh manusia. Dan kesimpulan ini bukan spekulasi, melainkan telah didukung oleh hasil uji ilmiah. Terlepas ada manusia yang merokok tapi tetap hidup sampai tua, hal tersebut tidak mengubah fakta ilmiah bahwa bahan dasar rokok berbahaya. Begitu pula dengan realitas bahwa begitu banyak orang-orang yang merokok tetap "kelihatan" sehat-sehat saja, bukan berarti bahan dasar rokok berubah menjadi menyehatkan tubuh manusia. Meskipun yang merokok adalah seorang dokter jantung, guru besar, kyai atau seorang ulama sekalipun, hal tersebut tidak akan mengubah fakta ilmiah bahwa bahan-bahan rokok sangat berbahaya dan merusak tubuh manusia.
Kesehatan manusia dipengaruhi oleh banyak faktor pola hidup, seperti pola makan, istirahat, olahraga, pikiran, dsb. Fakta bahwa merokok termasuk dalam kategori pola hidup tidak sehat telah diakui oleh pakar kesehatan di seluruh dunia. Bukan karena perilaku merokoknya, melainkan lebih mendasar lagi, yaitu bahan dasar rokok terbukti secara ilmiah sangat berbahaya bagi tubuh.
Sehingga jika ada dokter, orang tua, guru, kyai, ulama, perdana menteri, presiden, raja dan tokoh-tokoh hebat lainnya tetap memilih merokok meskipun mengetahui fakta ilmiah bahan dasar rokok yang berbahaya, dapat dipastikan bahwa keputusan perilakunya tidak berlandaskan data ilmiah. Sebab secara logika, ketika manusia ditawarkan racun yang berbahaya, akalnya pasti berpikir untuk menolak, tidak mau menerima, apalagi mengkonsumsinya. Jika keputusan perilakunya tidak lagi berlandaskan fakta kebenaran ilmiah, maka saya hanya bisa berdoa semoga keputusannya memilih merokok bukan mengikuti hawa nafsu yang "dirasionalisasikan" dengan dalil-dalil sehingga terkesan benar atau ilmiah.
Namun saya menyadari tidak semua orang menerima kebenaran ilmiah. Sepanjang saya bertemu dengan orang-orang yang merokok, kebanyakan dari mereka memutuskan perilaku merokok sarat dengan pola pikir subjektivitas, dan bukan objektivitas. Hal ini tentu bertentangan dengan logika berpikir saya yang mendedikasikan pada kebenaran ilmiah. Sehingga selamanya sudah pasti saya akan menolak rokok, apalagi jika disuruh merokok, jelas tidak mungkin saya lakukan, sebab mustahil bagi saya mengikuti pemikiran yang bertentangan dengan hukum-hukum objektivitas.
4. Misi Perbaikan
Jauh sebelum manusia diciptakan, malaikat pernah meragukan keputusan Tuhan. Ketika Dia berfirman, "Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi." (Q.S. Al Baqarah (2) : 30).
Menurut malaikat, manusia tidak layak menjadi khalifah di muka bumi, karena 2 hal, yaitu selalu berbuat kerusakan dan selalu menumpahkan darah. Barangkali malaikat merasa lebih berhak menjadi khalifah di muka bumi daripada manusia. Sebab malaikat senantiasa bertasbih memuji Allah dan mensucikan nama-Nya. Namun Tuhan membantah pernyataan para malaikat dengan mengatakan, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Malaikat telah membuat pernyataan tanpa mempunyai pengetahuan tentangnya. Sedangkan Allah lebih mengetahui tujuan-Nya menciptakan manusia dan menjadikannya khalifah di muka bumi. Dengan memahami dialog Tuhan dan malaikat ini kita dapat menyimpulkan bahwa misi khalifah (yang diembankan kepada manusia) bukan untuk berbuat kerusakan dan menumpahkan darah sebagaimana yang diragukan oleh para malaikat. Artinya, misi penciptaan manusia justru sebaliknya, terdapat "misi perbaikan", yaitu untuk memperbaiki kerusakan dan menegakkan keadilan di muka bumi.
Berdasarkan bahan dasar rokok (yang sudah dibahas sebelumnya), secara ilmiah bahan-bahan yang terkandung di dalam rokok dapat merusak tubuh manusia, sehingga perilaku merokok bagi saya bertentangan dengan misi perbaikan. Sebab perbuatan merokok bukannya memperbaiki kerusakan, justru mengarahkan diri sendiri pada kerusakan tubuh. Jika kerusakan tubuh sendiri saja dianggap normal, maka kerusakan yang ditimbulkan akibat asap rokok jika berdampak pada orang lain, masyarakat dan lingkungan sekitarnya, sudah pasti juga dianggap normal.
Dalam menjaga kesehatan tubuh, setiap hari saya berusaha tidur sebelum jam 10 malam, bangun tidur serta mandi sebelum shalat Shubuh, menyempatkan 30 menit berolahraga, makan makanan bergizi (mengandung karbohidrat, protein, sayur dan buah), minum banyak air putih dan cenderung menghindari minuman gula. Juga rutin berpuasa 2 x seminggu. Semua itu saya lakukan demi menjaga keseimbangan tubuh. Jika saya memasukkan perbuatan merokok di dalamnya, maka segala usaha saya untuk hidup sehat serasa ternoda. Betapa tidak, di saat semua usaha berorientasi pada memperbaiki tubuh agar tetap sehat, merokok justru bertentangan dengan pola hidup sehat yang sudah saya perjuangkan selama ini. Sehingga mustahil bagi saya memasukkan perbuatan merokok dalam hidup saya.
5. Episode Buah Jatuh
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya."
Peribahasa lama ini terdengar usang, tapi siapa sangka ternyata masih relevan dengan ilmu pengetahuan modern. Banyak pakar yang menyebutkan bahwa anak adalah peniru terbaik. Maka jika ingin mendidik anak, cara paling ampuh adalah dengan memberikan teladan.
Barangkali banyak sekali ditemui orang tua yang mengharapkan anaknya tumbuh menjadi anak yang berbakti, tapi teladan yang diterima anak justru mendapati orang tuanya gemar memarahi ayah atau ibunya. Ada juga yang memohon didoakan agar anaknya menjadi golongan orang-orang yang shaleh, tapi teladan yang ditangkap oleh anak justru jarang sekali melihat orang tuanya shalat. Ada juga orang tua yang mengharapkan anaknya menjadi pintar, tapi sang anak tidak pernah melihat orang tuanya belajar, membaca buku atau sekedar mengajaknya berdiskusi.
Teladan yang dilihat oleh anak dari orang tua adalah pelajaran pertama yang membangun identitas diri. Jika orang tuanya pemarah, niscaya anaknya dapat dengan mudah menjadi pemarah. Jika orang tuanya ingkar terhadap perintah wajib Tuhan, maka menuntut anak menjalankan perintah Tuhan, laksana menyodorkan cermin buram, anak secara sadar menganggapnya tidak penting sebagaimana perilaku orang tuanya. Begitu pula dalam hal merokok. Mengharapkan anak menjauhi rokok, sementara di rumah melihat ayahnya merokok dengan tenang, tentu hal itu hanya harapan semu belaka. Sebab ada larangan yang kontradiksi dengan teladan yang diajarkan.
Saya memilih tidak merokok. Harapan besar saya, anak saya juga memilih tidak merokok. Sejak awal saya harus memberikan teladan untuk tidak merokok, agar buah jatuh tepat di bawah pohonnya. Meskipun pengaruh dan godaan di lingkungan sekitarnya kelak begitu banyak, setidaknya pendidikan awal di rumah dan keluarganya telah terbangun untuk menghindari perbuatan merokok.
Tentu saja teladan yang diajarkan bukan bersifat dogma. Melainkan dengan dasar-dasar pemikiran logis dan berdasarkan fakta ilmiah. Dan menanamkan pemahaman bahwa menilai kebenaran jangan berdasarkan pada status dan ketokohan seseorang (berpikir subyektif), apalagi mengikuti kebanyakan orang (berpikir konvensional). Sebab saya menyadari kelak ketika anak saya sudah dewasa, pasti akan bertemu dengan orang-orang hebat yang merokok. Dan pada saat hal itu terjadi, pondasi berpikirnya sudah siap dan bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Bisa memikirkan dampaknya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bukan sebaliknya, berpikir pendek untuk mengejar kesenangan sesaat.
Demikianlah alasan saya kenapa tidak merokok. Penjelasan ini bukan hendak menyalahkan para perokok. Melainkan menunjukkan perbandingan pemikiran dari sudut pandang orang yang memilih tidak merokok. Saya berharap kelak ada seorang perokok yang menulis tentang “Kenapa Saya Merokok?” dengan dalil-dalil objektifnya jika dirasa pemikiran saya ini salah. Sehingga bisa mengajak pembaca untuk dapat berpikir objektif sebelum memutuskan suatu perbuatan. Sekali lagi, keputusan tetap kembali kepada masing-masing individu, sebab bukan tugas saya memberikan hidayah kepada manusia. Mau diberitahu kebenarannya atau tidak, Tuhan Yang Maha Berkehendak dan Berkuasa membolak-balikkan hati manusia. Sekian.
Catatan:
*) Untuk alasan ke-6 dan ke-7 sifatnya khusus, sehingga
hanya bisa saya sampaikan lewat lisan jika bertatap muka saja bukan lewat
tulisan.

0 Komentar