Aku menghampiri makam Ibu sebelum senja menyapa. Di tanganku, kugenggam setangkai mawar putih untuk dihadiahkan padanya.
Aku duduk diam. Samar-samar, kenangan itu memperdengarkanku pada sesuatu yang tak terdengar.
“Jadilah seperti apa yang kau mau. Kejar impianmu. Ibu akan selalu mendoakan.”
Tiba-tiba mataku basah.
“Ibu, maaf aku jarang datang,” bisikku pelan.
Angin berhembus lembut, menyapu dedaunan kering. Udara hangat turut membelai hatiku, ketika doa-doa mengalir bersama air mata yang tak lagi tertahankan.
Dulu aku terlalu sibuk mencari restu orang banyak, sampai lupa, doa Ibu-lah yang paling tulus.
Aku menunduk.
Batu nisan itu tetap bisu. Tapi hatiku seperti baru saja dipeluk, oleh suara yang sudah lama pergi, namun tak pernah benar-benar hilang.
“Terima kasih, Ibu.”
-Tamat-
___ *** ___
Hikmah:
Cerita ini menyampaikan pesan tentang seorang anak yang sibuk mencari validasi dari orang lain, pujian-pujian dan penghargaan atas pencapaiannya.
Lupa, bahwa impian yang ia raih, sekecil apapun tangga yang berhasil ditempuh, ibu adalah orang pertama yang paling bersyukur, paling bangga dan paling tulus dalam memeluk anaknya.
Dan boleh jadi, setiap moment dan kesempatan yang datang untuknya, adalah doa tak terdengar yang mampu mengetuk pintu langit hanya untuk kebaikannya.
Dan ketika Sang Anak menyadarinya, semua sudah terlambat. Sekarang, hanya doa-doa yang sanggup ia panjatkan kepada-Nya.
"Ya Tuhan, sayangilah ibuku sebagaimana ia menyayangiku di waktu aku kecil."
0 Komentar