Pada waktu yang lain, saya melihat video dengan konsep yang sama
tapi visualisasi yang berbeda. Ada seorang pengendara motor yang berhenti di
depan lampu merah. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di sebelah kanannya.
Sang pengendara motor berpikir alangkah bahagianya jika memiliki mobil, ketika
cuaca panas tidak kepanasan, ketika hujan tidak kehujanan, juga bisa bepergian
jauh ke luar kota bersama keluarga. Lalu
mengeluh tentang dirinya yang tak kunjung mampu membeli mobil. Pengendara motor
itu tidak menyadari bahwa di sebelah kirinya ada seorang kakek tua yang juga
berhenti dengan sepeda bututnya. Kakek tersebut berpikir alangkah bahagianya bisa mengendarai motor seperti orang di sebelahnya,
pasti lebih cepat sampai, tidak capek mengayuh dan bisa mengajak cucunya
keliling jalan-jalan di kota.
Pelajaran penting yang dapat dipetik dari kedua video ini adalah
baik karyawan kantor, pengendara motor dan kakek tua,
kebahagiannya telah menguap akibat
membandingkan nasib dirinya dengan kebahagiaan orang lain. Padahal banyak kenikmatan yang
telah dikaruniakan oleh Allah SWT kepadanya, tapi hatinya berpaling dan fokus pada karunia
yang belum dimilikinya. Karyawan kantor yang mengeluh dengan
pekerjaannya, tidak tahu bahwa pada saat yang sama, banyak calon pelamar kerja
yang menganggur dan berharap mendapatkan pekerjaan seperti posisinya saat ini.
Sedangkan kakek tua pengendara sepeda, juga
tidak tahu bahwa ada begitu banyak kakek tua sebayanya yang hanya bisa
berbaring lemah di kamar tidur dan rumah sakit, tidak selincah dirinya yang
masih mampu bersepeda ke mana-mana.
Mengeluh adalah hal yang wajar dialami oleh setiap manusia. Namun
jika berlebihan akan membentuk pola berpikir
negatif, sehingga membuat kebahagiaannya seketika luruh. Apalagi jika keluhan
tersebut berubah menjadi putus asa bahwa dirinya tak mungkin bisa mencapai apa
yang diinginkannya, seketika akan menghapus kebahagiaan yang tersisa dalam
jiwanya. Hatinya akan terasa pedih yang semakin bertambah, kesedihan pun
melanda dan pikirannya diselimuti kelam laksana malam gelap gulita. Jika sudah
demikian, hari-hari yang dilaluinya akan terasa berat dan menyiksa. Begitulah
azab bagi orang-orang yang kufur atas nikmat Allah SWT.
Kesadaran Identitas
Menurut KBBI, kufur
berarti ingkar, tidak pandai bersyukur. Dari pengertian ini kita dapat
mengetahui bahwa lawan dari kufur adalah syukur, yaitu rasa terima kasih kepada
Allah SWT. Orang yang pandai bersyukur akan berfokus
pada apa yang telah dikaruniakan Allah SWT kepadanya, bukan mempermasalahkan
sesuatu yang bukan/belum dimilikinya.
Rasa syukur akan menjadikan hati jernih. Hati yang jernih akan
mudah dan siap menerima warna apapun, artinya setitik nikmat yang Allah SWT
berikan akan tampak indah baginya. Sebaliknya, sifat kufur akan membuat hati
keruh selayaknya air selokan yang berwarna hitam
dan berbau
busuk. Segelas air susu yang dituangkan untuknya tak akan berarti apapun,
kenikmatannya kalah dengan kebusukan yang telah bersemayam di hatinya. Jika
tidak segera dibersihkan, bau busuknya akan bertambah menyengat setiap harinya.
Untuk itu, menjaga sifat syukur adalah ketrampilan yang sangat
penting. Sebab tidak semua orang memiliki, tapi semua orang bisa memilikinya.
Tergantung kesadaran akan pentingnya identitas sebagai
“hamba yang bersyukur” dan kemauan untuk berusaha menanamkan bibit-bibit kebiasaan bersyukur serta
merawatnya hingga tumbuh subur menjadi kepribadiannya.
Tidak banyak manusia yang
menjadikan “saya orang yang bersyukur” sebagai identitas kepribadiannya,
kebanyakan masih taraf “saya harus bersyukur”. Identitas ini jelas berbeda dan
berpengaruh pada kebiasaannya sehari-hari. Sama halnya dengan bedanya
mengidentifikasi diri sebagai “saya seorang penulis” dengan “saya harus
menulis.” Jika sudah memiliki kesadaran
identitas “saya orang yang bersyukur”, niscaya terbiasa dan konsisten bersyukur atas
setiap nikmat yang Allah SWT karuniakan. Alhasil, semakin banyak nikmat-nikmat baru yang tak terbilang jumlahnya hadir dalam kehidupannya.
Allah SWT pernah menyampaikan dampak bersyukur dalam Al Quran lewat Surat
Ibrahim ayat 7 yang berbunyi, "Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”
Bagi siapapun, baik laki-laki maupun perempuan, baik umat Islam
atau selainnya, mereka yang pandai bersyukur akan merasakan bahwa ada begitu
banyak karunia Allah SWT yang telah dianugerahkan untuknya,
dari bangun tidur sampai dengan tidur
lagi, bahkan di saat dirinya sedang terlelap, karunia Allah tetap berjalan. Tak
hanya itu, orang yang pandai bersyukur ketika dirinya
mengalami kejadian buruk yang menimpa kehidupannya, akan mampu menemukan cahaya hikmah dan tetap berpikir positif, sehingga memudahkannya
dalam mendapatkan ide-ide pemecahan masalah. Dengan demikian bertambahlah kenikmatan yang
disyukurinya.
Bagaimana cara membangun kebiasaan bersyukur?
Sebagaimana di
sekolah-sekolah, terdapat siswa yang pandai, sedang dan kurang secara akademik.
Begitu pula di dunia ini, terdapat manusia yang pandai bersyukur, sedang dan
kurang. Manusia yang pandai bersyukur tidak bisa dibentuk secara instant, sebab
kepribadian bersyukur adalah kebiasaan-kebiasaan yang terakumulasi secara
konsisten dan terus menerus dalam kurun waktu yang lama. Sama halnya dengan
siswa yang pandai di sekolah, tidak semerta-merta terjadi begitu saja,
melainkan terdapat kebiasaan-kebiasaan belajar sejak dulu dan terus konsisten
dilakukan sampai sekarang, sehingga kebiasaan-kebiasaan belajarnya terakumulasi
menjadi kepribadian siswa pandai. Maka jika ingin menjadi pribadi yang pandai
bersyukur, harus memahami kebiasaan-kebiasaan bersyukurnya orang-orang yang
pandai bersyukur. Jika hanya sebatas bersyukur, barangkali bisa diucapkan
secara lisan. Namun hal tersebut tidak akan konsisten dilakukan setiap harinya,
bahkan hari ini bisa jadi lebih banyak mengeluhnya daripada bersyukur.
Saya pernah membaca
status teman yang bersyukur karena mendapatkan rejeki dan diposting di media
sosialnya. Saya turut senang membacanya, tapi apakah teman saya konsisten
bersyukur dan selalu diposting? Tidak. Bahkan jika saya hitung, 1 x seminggu
belum tentu posting bersyukur. Barangkali rasa syukur terhadap kenikmatan yang
besar saja yang ingin dibagikan, sedangkan kenikmatan yang kecil-kecil tetap
disyukuri tapi merasa tidak perlu diposting (begitu pikiran positif saya).
Namun apakah benar demikian? Entahlah, hanya teman saya yang tahu.
Bagaimana dengan kita? Apakah
kita termasuk pribadi yang pandai bersyukur? Apakah setiap hari kita
benar-benar mengucapkan syukur atas setiap karunia Allah SWT? Untuk
menjawabnya, marilah kita menulis 10 kenikmatan yang Allah SWT karuniakan hari
ini dan kita bersyukur. Bisa? Jangan-jangan kita bingung mau menulis apa, sebab
merasa hari ini tidak banyak yang spesial untuk disyukuri. Hal ini dikarenakan
selama ini kita lupa mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT, maka karunia-karunia
yang tampaknya kecil menjadi mudah menguap begitu saja, tidak masuk dalam list
yang perlu disyukuri. Padahal bisa jadi karunia tersebut adalah sesuatu yang
besar bagi orang lain.
![]() |
| Foto: Doc. Pribadi |
Menulis Diary Syukur
Jika ditulis semua nikmat Allah SWT, tidak akan cukup meskipun seluruh lautan di muka
bumi ini dijadikan tinta. Namun alangkah
baiknya jika kita tetap menuliskannya setiap hari, meskipun hanya Top 10
kenikmatan-Nya. Tidak ada salahnya kita menulis nikmat-nikmat Allah SWT, sebab
dengan menulis, kita akan mampu menangkap karunia Allah yang kita rasakan dan
mengubahnya menjadi data (tidak menguap begitu
saja).
Data-data nikmat Allah ini dapat kita baca
kembali kapanpun, di manapun dan bisa direnungkan sebagai
hikmah oleh siapapun. Bukankah demikian cara
Allah SWT dalam mengajarkan manusia?
"Yang
mengajar (manusia) dengan pena." (Q.S. Al-Alaq ayat 4).
Pena berfungsi untuk menulis. Menulis bertujuan untuk menyimpan
data. Untuk membangun kebiasaan bersyukur dapat
kita mulai dengan menulisnya. Nikmat-nikmat Allah
yang kita rasakan setiap hari, kita tangkap dengan
perantara pena. Sebelum tidur, tuliskanlah dalam sebuah buku--yang marilah
kita sebut diary syukur*. Dengan
menyimpan nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kita ke dalam sebuah
tulisan, akan mampu menambah kekuatan rasa syukur, sebab nikmat-nikmat Allah SWT akan tersimpan dengan baik sebagai data sampai bertahun-tahun.
Selain itu, data tersebut dapat dijadikan bahan analisa betapa banyaknya karunia Allah setiap hari. dibandingkan dengan jika kita tidak
menuliskannya sama sekali. Bahkan ketika kita menghadapi ujian berat, data-data
ini dapat menjadi pembanding betapa keadaan saat ini tidak seberapa
dibandingkan karunia Allah SWT selama ini yang diterimanya. Sehingga memantik
keyakinan bahwa beserta
kesulitan terdapat kemudahan. Hati menjadi lebih tenang, sehingga siap menerima karunia Allah SWT berikutnya.
Mulai Hari Ini, Malam Ini
Jika pada umumnya buku
diary digunakan untuk menulis aktivitas harian, curahan hati dan pengalaman
berharga seseorang, maka buku diary syukur juga mengandung unsur-unsur yang
sama. Perbedaannya hanya pada isinya yang penuh dengan rasa syukur, seperti
aktivitas yang kita syukuri, curahan hati bersyukur dan pengalaman kenikmatan
yang disyukuri. Berfokus pada karunia Allah SWT dari hal yang paling kecil
hingga yang paling membekas di hati. Sebisa mungkin tidak mencampur-adukkan
dengan keluh kesah yang mencemari hati yang sedang bersyukur. Jika ingin
menangis, luapkan ketika bersujud, tak perlu diabadikan ke dalam diary syukur.
Kapan kita harus mulai menuliskan nikmat-nikmat Allah SWT? Hari
ini, malam ini, jangan ditunda-tunda. Siapkan buku dan pena di samping tempat tidur
anda, 30 menit menjelang tidur, silahkan menulis. Mendekatkan buku dan pena di sebelah
bantal anda akan menjadi pemicu dan pengingat terbaik untuk konsisten
menuliskannya. Hal ini akan menjadi
alur kebiasaan yang otomatis, seakan otak kita telah terprogram, “sebelum tidur
ya menulis diary syukur dulu”. Hal ini akan lebih efektif dibandingkan
dengan meletakkan buku dan pena jauh dari
tempat tidur.
Apa saja nikmat Allah SWT yang perlu ditulis? Apapun, semuanya,
mulai dari nikmat yang kelihatannya kecil padahal sebenarnya karunia besar luar
biasa, sampai dengan nikmat yang benar-benar membekas dalam ingatan.
Berikut ini 7 bersyukur yang seringkali saya isi dalam diary syukur setiap hari, meskipun tidak rata, tapi masing-masing ada, setidaknya setiap hari saya
berusaha tidak kurang dari 10 rasa syukur yang dituliskan.
- Bersyukur tentang kenikmatan masih diberikan kesempatan hidup
kembali dan detail kesehatan.
- Bersyukur tentang kenikmatan masih diberikan keimanan, mampu menjalankan ibadah wajib dan sunnah, berhasil menjauhi perbuatan buruk, dan
semua hal yang berhubungan dengan ketaqwaan.
- Bersyukur tentang kenikmatan masih diberikan keluarga, sahabat, teman-teman, tetangga dan lingkungan sekitar beserta kabar kebaikan-kebaikannya.
- Bersyukur tentang kenikmatan masih bisa membantu orang lain, bersedekah dan kebaikan sosial lainnya.
- Bersyukur tentang kenikmatan masih bisa belajar, bekerja, masih bisa berjuang
menjalankan aktivitas yang berhubungan dengan tangga
impian.
- Bersyukur tentang kenikmatan berhasil menyelesaikan tugas, masalah
atau pekerjaan, meraih target, dan
sebagainya.
- Bersyukur tentang kenikmatan mendapatkan penghargaan, kelulusan, gaji, makanan dan rejeki lainnya, baik yang disangka maupun yang tak disangka-sangka.
![]() |
| Foto: Doc. Pribadi |
Berikut ini salah satu
pengalaman syukur yang pernah saya alami, bukan bermaksud riya’ melainkan
sebagai contoh teknis menuliskan di buku diary syukur bagi yang masih
kebingungan. Namanya juga teknis, sifatnya bisa berbeda-beda pada setiap orang
dalam menuliskannya. Saya hanya mengambil 10 yang kalimatnya pendek-pendek
saja. Biasanya jika sedang mood dan tidak terlalu mengantuk, saya bisa menuliskan
setengah halaman buku hanya untuk 1 karunia yang disyukuri.
- Ya Allah, Alhamdulillah, hari ini hamba diberikan kesempatan bangun dari tidur, setelah semalam kerja lembur, masih bisa menghirup udara pagi dengan badan yang sehat.
- Ya Allah, Alhamdulillah, hari ini hamba masih sempat menjalankan shalat tahajud dan terima kasih Engkau telah mengangkat rasa malas dalam hati, sehingga hamba bisa melawan kantuk dan mau pergi shalat shubuh berjamaah di masjid.
- Ya Allah, Alhamdulillah, saya masih bisa menyisihkan sedikit uang makan saya untuk sedekah hari ini.
- Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau telah mengetuk hari saya untuk menolong teman yang sedang sakit dengan membelikannya makanan, meskipun bukan dengan uang saya sendiri.
- Ya Allah, Alhamdulillah, saya bisa menjalankan shalat awal waktu ketika shalat dhuhur dan ashar, meskipun tugas-tugas di kantor hari ini sedang menumpuk banyak.
- Ya Allah, Alhamdulillah, meskipun tubuh saya sangat lelah, saya masih bisa menyempatkan membaca Al Quran malam ini meskipun hanya 1 lembar.
- Ya Allah, Alhamdulillah, kedua orang tua hamba dalam keadaan sehat dan hari ini saya sempat sarapan bersama mereka.
- Ya Allah, Alhamdulillah, Istri saya tidak marah, meskipun saya telambat pulang dan lupa tidak memberi kabar.
- Ya Allah, Alhamdulillah, anak saya ceria sekali hari ini, sehat dan bahagia melihat kepulangan saya. Meskipun saya lelah, rasanya begitu bahagia bisa melihatnya tertawa.
- Ya Allah, Alhamdulillah, hari ini saya membaca status teman saya terlihat sehat dan bahagia bersama suami dan anaknya berlibur di pantai.
Setelah memahami
pentingnya bersyukur setiap hari, pada artikel berikutnya kita akan membahas
tentang kebiasaan-kebiasaan orang yang pandai bersyukur. Dengan mengetahui
kebiasaan-kebiasaannya, kita bisa menyiapkan diri untuk memulai dari kebiasaan
yang paling mudah, sehingga semakin hari dapat mengubah kebiasaan kita menjadi
semakin baik daripada hari kemarin.
Catatan:
*) Buku diary syukur bisa disebut juga dengan jurnal syukur, bisa berupa buku
fisik atau aplikasi digital, selama sesuai tujuannya untuk menyimpan data dan
tidak mudah hilang.



0 Komentar