Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Diary Syukur: Kebiasaan Sederhana Melejitkan Bahagia

Saya pernah menonton sebuah video yang bercerita tentang begitu mudahnya kebahagiaan terenggut dengan cepat. Ceritanya begini, ada seorang karyawan kantor yang mengeluh tentang pekerjaannya yang menumpuk bahkan menuntutnya harus lembur, lalu berpikir betapa bahagianya bisa punya bisnis sendiri, bebas secara finansial dan bisa bekerja kapan saja. Sedangkan di saat yang sama, di tempat lain, dia tidak menyadari, ada seorang pengusaha yang sedang kebingungan karena omset perusahaannya bulan ini menurun, sedangkan kewajibannya membayar gaji karyawan dan tagihan utang usaha tetap berjalan.

 

Doc. Pribadi

 

Pada waktu yang lain, saya melihat video dengan konsep yang sama tapi visualisasi yang berbeda. Ada seorang pengendara motor yang berhenti di depan lampu merah. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di sebelah kanannya. Sang pengendara motor berpikir alangkah bahagianya jika memiliki mobil, ketika cuaca panas tidak kepanasan, ketika hujan tidak kehujanan, juga bisa bepergian jauh ke luar kota bersama keluarga. Lalu mengeluh tentang dirinya yang tak kunjung mampu membeli mobil. Pengendara motor itu tidak menyadari bahwa di sebelah kirinya ada seorang kakek tua yang juga berhenti dengan sepeda bututnya. Kakek tersebut berpikir alangkah bahagianya bisa mengendarai motor seperti orang di sebelahnya, pasti lebih cepat sampai, tidak capek mengayuh dan bisa mengajak cucunya keliling jalan-jalan di kota.

 

Pelajaran penting yang dapat dipetik dari kedua video ini adalah baik karyawan kantor, pengendara motor dan kakek tua, kebahagiannya telah menguap akibat membandingkan nasib dirinya dengan kebahagiaan orang lain. Padahal banyak kenikmatan yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT kepadanya, tapi hatinya berpaling dan fokus pada karunia yang belum dimilikinya. Karyawan kantor yang mengeluh dengan pekerjaannya, tidak tahu bahwa pada saat yang sama, banyak calon pelamar kerja yang menganggur dan berharap mendapatkan pekerjaan seperti posisinya saat ini. Sedangkan kakek tua pengendara sepeda, juga tidak tahu bahwa ada begitu banyak kakek tua sebayanya yang hanya bisa berbaring lemah di kamar tidur dan rumah sakit, tidak selincah dirinya yang masih mampu bersepeda ke mana-mana.

 

Mengeluh adalah hal yang wajar dialami oleh setiap manusia. Namun jika berlebihan akan membentuk pola berpikir negatif, sehingga membuat kebahagiaannya seketika luruh. Apalagi jika keluhan tersebut berubah menjadi putus asa bahwa dirinya tak mungkin bisa mencapai apa yang diinginkannya, seketika akan menghapus kebahagiaan yang tersisa dalam jiwanya. Hatinya akan terasa pedih yang semakin bertambah, kesedihan pun melanda dan pikirannya diselimuti kelam laksana malam gelap gulita. Jika sudah demikian, hari-hari yang dilaluinya akan terasa berat dan menyiksa. Begitulah azab bagi orang-orang yang kufur atas nikmat Allah SWT.

 

Kesadaran Identitas

Menurut KBBI, kufur berarti ingkar, tidak pandai bersyukur. Dari pengertian ini kita dapat mengetahui bahwa lawan dari kufur adalah syukur, yaitu rasa terima kasih kepada Allah SWT. Orang yang pandai bersyukur akan berfokus pada apa yang telah dikaruniakan Allah SWT kepadanya, bukan mempermasalahkan sesuatu yang bukan/belum dimilikinya.

 

Rasa syukur akan menjadikan hati jernih. Hati yang jernih akan mudah dan siap menerima warna apapun, artinya setitik nikmat yang Allah SWT berikan akan tampak indah baginya. Sebaliknya, sifat kufur akan membuat hati keruh selayaknya air selokan yang berwarna hitam dan berbau busuk. Segelas air susu yang dituangkan untuknya tak akan berarti apapun, kenikmatannya kalah dengan kebusukan yang telah bersemayam di hatinya. Jika tidak segera dibersihkan, bau busuknya akan bertambah menyengat setiap harinya.

 

Untuk itu, menjaga sifat syukur adalah ketrampilan yang sangat penting. Sebab tidak semua orang memiliki, tapi semua orang bisa memilikinya. Tergantung kesadaran akan pentingnya identitas sebagai “hamba yang bersyukur” dan kemauan untuk berusaha menanamkan bibit-bibit kebiasaan bersyukur serta merawatnya hingga tumbuh subur menjadi kepribadiannya.

 

Tidak banyak manusia yang menjadikan “saya orang yang bersyukur” sebagai identitas kepribadiannya, kebanyakan masih taraf “saya harus bersyukur”. Identitas ini jelas berbeda dan berpengaruh pada kebiasaannya sehari-hari. Sama halnya dengan bedanya mengidentifikasi diri sebagai “saya seorang penulis” dengan “saya harus menulis.” Jika sudah memiliki kesadaran identitas “saya orang yang bersyukur”, niscaya terbiasa dan konsisten bersyukur atas setiap nikmat yang Allah SWT karuniakan. Alhasil, semakin banyak nikmat-nikmat baru yang tak terbilang jumlahnya hadir dalam kehidupannya.

 

Allah SWT pernah menyampaikan dampak bersyukur dalam Al Quran lewat Surat Ibrahim ayat 7 yang berbunyi, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”

 

Bagi siapapun, baik laki-laki maupun perempuan, baik umat Islam atau selainnya, mereka yang pandai bersyukur akan merasakan bahwa ada begitu banyak karunia Allah SWT yang telah dianugerahkan untuknya, dari bangun tidur sampai dengan tidur lagi, bahkan di saat dirinya sedang terlelap, karunia Allah tetap berjalan. Tak hanya itu, orang yang pandai bersyukur ketika dirinya mengalami kejadian buruk yang menimpa kehidupannya, akan mampu menemukan cahaya hikmah dan tetap berpikir positif, sehingga memudahkannya dalam mendapatkan ide-ide pemecahan masalah. Dengan demikian bertambahlah kenikmatan yang disyukurinya.

 

Bagaimana cara membangun kebiasaan bersyukur?

Sebagaimana di sekolah-sekolah, terdapat siswa yang pandai, sedang dan kurang secara akademik. Begitu pula di dunia ini, terdapat manusia yang pandai bersyukur, sedang dan kurang. Manusia yang pandai bersyukur tidak bisa dibentuk secara instant, sebab kepribadian bersyukur adalah kebiasaan-kebiasaan yang terakumulasi secara konsisten dan terus menerus dalam kurun waktu yang lama. Sama halnya dengan siswa yang pandai di sekolah, tidak semerta-merta terjadi begitu saja, melainkan terdapat kebiasaan-kebiasaan belajar sejak dulu dan terus konsisten dilakukan sampai sekarang, sehingga kebiasaan-kebiasaan belajarnya terakumulasi menjadi kepribadian siswa pandai. Maka jika ingin menjadi pribadi yang pandai bersyukur, harus memahami kebiasaan-kebiasaan bersyukurnya orang-orang yang pandai bersyukur. Jika hanya sebatas bersyukur, barangkali bisa diucapkan secara lisan. Namun hal tersebut tidak akan konsisten dilakukan setiap harinya, bahkan hari ini bisa jadi lebih banyak mengeluhnya daripada bersyukur.

 

Saya pernah membaca status teman yang bersyukur karena mendapatkan rejeki dan diposting di media sosialnya. Saya turut senang membacanya, tapi apakah teman saya konsisten bersyukur dan selalu diposting? Tidak. Bahkan jika saya hitung, 1 x seminggu belum tentu posting bersyukur. Barangkali rasa syukur terhadap kenikmatan yang besar saja yang ingin dibagikan, sedangkan kenikmatan yang kecil-kecil tetap disyukuri tapi merasa tidak perlu diposting (begitu pikiran positif saya). Namun apakah benar demikian? Entahlah, hanya teman saya yang tahu.

 

Bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk pribadi yang pandai bersyukur? Apakah setiap hari kita benar-benar mengucapkan syukur atas setiap karunia Allah SWT? Untuk menjawabnya, marilah kita menulis 10 kenikmatan yang Allah SWT karuniakan hari ini dan kita bersyukur. Bisa? Jangan-jangan kita bingung mau menulis apa, sebab merasa hari ini tidak banyak yang spesial untuk disyukuri. Hal ini dikarenakan selama ini kita lupa mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT, maka karunia-karunia yang tampaknya kecil menjadi mudah menguap begitu saja, tidak masuk dalam list yang perlu disyukuri. Padahal bisa jadi karunia tersebut adalah sesuatu yang besar bagi orang lain.

 

Foto: Doc. Pribadi


Menulis Diary Syukur

Jika ditulis semua nikmat Allah SWT, tidak akan cukup meskipun seluruh lautan di muka bumi ini dijadikan tinta. Namun alangkah baiknya jika kita tetap menuliskannya setiap hari, meskipun hanya Top 10 kenikmatan-Nya. Tidak ada salahnya kita menulis nikmat-nikmat Allah SWT, sebab dengan menulis, kita akan mampu menangkap karunia Allah yang kita rasakan dan mengubahnya menjadi data (tidak menguap begitu saja). Data-data nikmat Allah ini dapat kita baca kembali kapanpun, di manapun dan bisa direnungkan sebagai hikmah oleh siapapun. Bukankah demikian cara Allah SWT dalam mengajarkan manusia?

 

"Yang mengajar (manusia) dengan pena." (Q.S. Al-Alaq ayat 4).

 

Pena berfungsi untuk menulis. Menulis bertujuan untuk menyimpan data. Untuk membangun kebiasaan bersyukur dapat kita mulai dengan menulisnya. Nikmat-nikmat Allah yang kita rasakan setiap hari, kita tangkap dengan perantara pena. Sebelum tidur, tuliskanlah dalam sebuah buku--yang marilah kita sebut diary syukur*. Dengan menyimpan nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kita ke dalam sebuah tulisan, akan mampu menambah kekuatan rasa syukur, sebab nikmat-nikmat Allah SWT akan tersimpan dengan baik sebagai data sampai bertahun-tahun.

 

Selain itu, data tersebut dapat dijadikan bahan analisa betapa banyaknya karunia Allah setiap hari. dibandingkan dengan jika kita tidak menuliskannya sama sekali. Bahkan ketika kita menghadapi ujian berat, data-data ini dapat menjadi pembanding betapa keadaan saat ini tidak seberapa dibandingkan karunia Allah SWT selama ini yang diterimanya. Sehingga memantik keyakinan bahwa beserta kesulitan terdapat kemudahan. Hati menjadi lebih tenang, sehingga siap menerima karunia Allah SWT berikutnya.

 

Mulai Hari Ini, Malam Ini

Jika pada umumnya buku diary digunakan untuk menulis aktivitas harian, curahan hati dan pengalaman berharga seseorang, maka buku diary syukur juga mengandung unsur-unsur yang sama. Perbedaannya hanya pada isinya yang penuh dengan rasa syukur, seperti aktivitas yang kita syukuri, curahan hati bersyukur dan pengalaman kenikmatan yang disyukuri. Berfokus pada karunia Allah SWT dari hal yang paling kecil hingga yang paling membekas di hati. Sebisa mungkin tidak mencampur-adukkan dengan keluh kesah yang mencemari hati yang sedang bersyukur. Jika ingin menangis, luapkan ketika bersujud, tak perlu diabadikan ke dalam diary syukur.

 

Kapan kita harus mulai menuliskan nikmat-nikmat Allah SWT? Hari ini, malam ini, jangan ditunda-tunda. Siapkan buku dan pena di samping tempat tidur anda, 30 menit menjelang tidur, silahkan menulis. Mendekatkan buku dan pena di sebelah bantal anda akan menjadi pemicu dan pengingat terbaik untuk konsisten menuliskannya. Hal ini akan menjadi alur kebiasaan yang otomatis, seakan otak kita telah terprogram, “sebelum tidur ya menulis diary syukur dulu”. Hal ini akan lebih efektif dibandingkan dengan meletakkan buku dan pena jauh dari tempat tidur.

 

Apa saja nikmat Allah SWT yang perlu ditulis? Apapun, semuanya, mulai dari nikmat yang kelihatannya kecil padahal sebenarnya karunia besar luar biasa, sampai dengan nikmat yang benar-benar membekas dalam ingatan.

 

Berikut ini 7 bersyukur yang seringkali saya isi dalam diary syukur setiap hari, meskipun tidak rata, tapi masing-masing ada, setidaknya setiap hari saya berusaha tidak kurang dari 10 rasa syukur yang dituliskan.

  1. Bersyukur tentang kenikmatan masih diberikan kesempatan hidup kembali dan detail kesehatan.
  2. Bersyukur tentang kenikmatan masih diberikan keimanan, mampu menjalankan ibadah wajib dan sunnah, berhasil menjauhi perbuatan buruk, dan semua hal yang berhubungan dengan ketaqwaan.
  3. Bersyukur tentang kenikmatan masih diberikan keluarga, sahabat, teman-teman, tetangga dan lingkungan sekitar beserta kabar kebaikan-kebaikannya.
  4. Bersyukur tentang kenikmatan masih bisa membantu orang lain, bersedekah dan kebaikan sosial lainnya.
  5. Bersyukur tentang kenikmatan masih bisa belajar, bekerja, masih bisa berjuang menjalankan aktivitas yang berhubungan dengan tangga impian.
  6. Bersyukur tentang kenikmatan berhasil menyelesaikan tugas, masalah atau pekerjaan, meraih target, dan sebagainya.
  7. Bersyukur tentang kenikmatan mendapatkan penghargaan, kelulusan, gaji, makanan dan rejeki lainnya, baik yang disangka maupun yang tak disangka-sangka.

 

Foto: Doc. Pribadi

Berikut ini salah satu pengalaman syukur yang pernah saya alami, bukan bermaksud riya’ melainkan sebagai contoh teknis menuliskan di buku diary syukur bagi yang masih kebingungan. Namanya juga teknis, sifatnya bisa berbeda-beda pada setiap orang dalam menuliskannya. Saya hanya mengambil 10 yang kalimatnya pendek-pendek saja. Biasanya jika sedang mood dan tidak terlalu mengantuk, saya bisa menuliskan setengah halaman buku hanya untuk 1 karunia yang disyukuri.

  1. Ya Allah, Alhamdulillah, hari ini hamba diberikan kesempatan bangun dari tidur, setelah semalam kerja lembur, masih bisa menghirup udara pagi dengan badan yang sehat.
  2. Ya Allah, Alhamdulillah, hari ini hamba masih sempat menjalankan shalat tahajud dan terima kasih Engkau telah mengangkat rasa malas dalam hati, sehingga hamba bisa melawan kantuk dan mau pergi shalat shubuh berjamaah di masjid.
  3. Ya Allah, Alhamdulillah, saya masih bisa menyisihkan sedikit uang makan saya untuk sedekah hari ini.
  4. Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau telah mengetuk hari saya untuk menolong teman yang sedang sakit dengan membelikannya makanan, meskipun bukan dengan uang saya sendiri.
  5. Ya Allah, Alhamdulillah, saya bisa menjalankan shalat awal waktu ketika shalat dhuhur dan ashar, meskipun tugas-tugas di kantor hari ini sedang menumpuk banyak.
  6. Ya Allah, Alhamdulillah, meskipun tubuh saya sangat lelah, saya masih bisa menyempatkan membaca Al Quran malam ini meskipun hanya 1 lembar.
  7. Ya Allah, Alhamdulillah, kedua orang tua hamba dalam keadaan sehat dan hari ini saya sempat sarapan bersama mereka.
  8. Ya Allah, Alhamdulillah, Istri saya tidak marah, meskipun saya telambat pulang dan lupa tidak memberi kabar.
  9. Ya Allah, Alhamdulillah, anak saya ceria sekali hari ini, sehat dan bahagia melihat kepulangan saya. Meskipun saya lelah, rasanya begitu bahagia bisa melihatnya tertawa.
  10. Ya Allah, Alhamdulillah, hari ini saya membaca status teman saya terlihat sehat dan bahagia bersama suami dan anaknya berlibur di pantai.

 

Setelah memahami pentingnya bersyukur setiap hari, pada artikel berikutnya kita akan membahas tentang kebiasaan-kebiasaan orang yang pandai bersyukur. Dengan mengetahui kebiasaan-kebiasaannya, kita bisa menyiapkan diri untuk memulai dari kebiasaan yang paling mudah, sehingga semakin hari dapat mengubah kebiasaan kita menjadi semakin baik daripada hari kemarin.

 

Catatan:

*) Buku diary syukur bisa disebut juga dengan jurnal syukur, bisa berupa buku fisik atau aplikasi digital, selama sesuai tujuannya untuk menyimpan data dan tidak mudah hilang.

Posting Komentar

0 Komentar