"Apakah karena engkau anak pemimpin, lalu kau memakan daging dengan nikmat, sedangkan orang-orang di luar sana sedang kesusahan. Tidakkah cukup roti dengan garam? Roti dengan minyak?"
![]() |
| yoona.id-daging_sapi |
Begitulah sikap Umar Bin Khattab ketika mendapati anaknya, Abdullah Bin Umar memakan daging ketika beliau berkunjung ke rumahnya.
Umar tampak begitu geram. Pasalnya, di saat masih banyak orang-orang kesulitan untuk makan, alih-alih merasakan nikmatnya daging, membeli sepotong roti saja, sebatas untuk mengganjal perut yang kelaparan, sudah kesulitan. Paradoks, Umar justru mendapati anaknya sendiri sedang santai memakan daging dengan nikmat tanpa merasa bersalah sama sekali.
Kemewahan yang ditampilkan oleh Abdullah adalah kesalahan menurut Umar, sebab jauh dari keseimbangan ekonomi pada masa itu. Jika dibiarkan, ketimpangan menjadi semakin lebar dan membuat rakyat miskin semakin terpuruk karena hilangnya empati dari kalangan orang-orang yang berkecukupan.
Betapa tidak, jika kalangan elite merasa kehidupan mewah adalah kewajaran, apalagi sampai menjadi tren yang melahirkan kecenderungan untuk bermegah-megahan, niscaya kemelaratan akan semakin jelas, mencetak jarak yang jauh antara orang kaya dengan orang miskin. Sebab dalam kamus ekonomi orang kaya, prioritas pengeluaran adalah kebutuhan tersier, sedangkan pengeluaran sosial sangat minimalis, hanya-jika ada sisa-sisa harta saja. Jikalaupun didahulukan, prosentasenya sangat kecil sekali dibandingkan pengeluarannya yang bersifat kemewahan pribadi.
Jika sudah melampaui batas keseimbangan, semakin lama dibiarkan akan menjadi bom waktu, kehancuran sosial niscaya akan meledak. Beruntung Umar menyadari hal ini dan melarang keluarganya, khususnya Abdullah anaknya, agar menghindari kehidupan bermewah-mewahan di tengah-tengah kemelaratan orang-orang di sekitarnya. Dan menawarkan konsep kehidupan sederhana. Di mana pengeluaran untuk kebutuhan primer, sekunder dan pengeluaran sosial, sama-sama menjadi prioritas yang seimbang.
Ketika Umar Bin Khattab mengatakan cukup dengan makan roti bukan makan daging, tentu yang dimaksud bukanlah memakan roti seharga ratusan ribu, yang tetap tidak tersentuh harganya oleh penghasilan rakyat miskin. Makna ungkapan ini merujuk pada perbandingan kebutuhan primer dan tersier. Ketika Abdullah anaknya memilih membeli daging yang harganya mahal, di tengah-tengah kemelaratan masyarakat sekitarnya yang sebagian besar masih kelaparan, meskipun memiliki kemampuan untuk membelinya, maka kebutuhan makan yang seharusnya adalah primer, telah berubah menjadi kebutuhan tersier, disebabkan mengandung unsur bermegah-megahan. Sedangkan pada masa itu makanan pokok masyarakat pada umumnya adalah gandum (roti).
Kesederhanaan yang diajarkan Umar pada keluarganya ini tidak hanya dalam hal pangan, tapi juga aspek lainnya seperti sandang dan papan. Pertanyaannya, jika kehidupan kalangan elite tetap rendah hati dan sederhana, lalu dikemanakan kelebihan hartanya? Secara umum, kelebihan hartanya adalah untuk memberi makan orang miskin yang kelaparan dan membantu masalah kebutuhan sosial lainnya secara seimbang. Sehingga terciptalah keharmonisan antara kalangan elite dengan rakyat jelata.
Di tengah-tengah krisis kepemimpinan masyarakat, barangkali pemimpin kontemporer perlu bercermin dari sepenggal kisah Umar Bin Khattab. Namun mendidik keluarga sederhana tentu tidaklah mudah. Dengan kedudukannya sebagai pemimpin, gempuran tawaran harta, kemudahan akses fasilitas mewah, apalagi ketenaran yang kerap membentangkan karpet merah dihadapannya ketika menginginkan sesuatu, maka tak jarang sifat bermegah-megahan bertumbuh subur dalam hati keluarga. Jika sudah demikian, nafsu pamer harta mudah sekali berbunga mekar.
Pada dasarnya, agama tidak melarang umatnya untuk mencari kekayaan. Selama menjauhkan diri dari sifat bermegah-megahan dan pamer harta kemewahan di tengah-tengah kemelaratan masyarakat. Selain itu, cara mendapatkan harta juga harus adil dan seimbang.
Umar sendiri tidak melarang Abdullah untuk berkarier dan mencari keuntungan dalam berdagang selama berlaku adil. Namun jika keuntungan yang didapatkan bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan, maka Umar akan bersikap tegas. Apalagi jika ketidakadilan tersebut dilakukan oleh anaknya karena hak istimewa (privillege) menjadi keluarga pemimpin.
Unta gemuk milik Abdullah anaknya adalah teladan nyata.
![]() |
| media.suara.com-kumpulan_unta |
Ketika Umar 'blusukan' memeriksa keadaan rakyatnya, sampailah di pasar dan beliau mendapati seekor unta gemuk di tengah-tengah unta-unta lainnya yang berukuran wajar. "Milik siapakah unta ini?" Umar bertanya.
"Unta milik Abdullah Bin Umar." Mendengar jawaban mereka, segera diutus orang untuk memanggil Abdullah ke hadapannya.
"Unta itu kubeli dengan uangku sendiri, dulunya sangat kurus, aku gembalakan di padang rumput sampai gemuk seperti sekarang. Aku hendak menjualnya untuk mendapatkan keuntungan seperti orang lainnya dalam berdagang." Abdullah menjelaskan kepada ayahnya.
Umar membantah. Secara logika, di padang rumput yang sama, kenapa hanya unta milik Abdullah yang gemuk sedangkan unta-unta yang lainnya berukuran wajar? Menurut Umar, ketika orang-orang melihat Abdullah sebagai anak pemimpin, perlakuan terhadap untanya berbeda dengan unta-unta lainnya. Unta Abdullah mendapatkan cara penggembalaan terbaik, merawatnya dan memberi minum berkecukupan, sehingga unta Abdullah menjadi lebih gemuk dari unta-unta milik anak-anak lain yang tidak memiliki hak istimewa (privillege) sebagai unta milik putra pemimpin. Keistimewaan ini menjadikan Abdullah mendapatkan keuntungan berlipat-lipat secara tidak adil.
Hak istimewa (privillege) anak pemimpin yang menguntungkan Abdullah, menurut Umar adalah kesalahan, sebab jika Abdullah hanya anak orang biasa, dengan usaha yang sama, tidak mungkin mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda seperti sekarang.
Dengan meluap-luap, Umar memerintahkan Abdullah anaknya untuk menjual unta gemuk miliknya dan mengambil modal beli untanya. Sisa keuntungan dari hasil penjualan unta akan dimasukkan ke dalam kas negara untuk kesejahteraan rakyat. Abdullah Bin Umar menyadari kesalahannya dan menjalankan perintah ayahnya.
Unta gemuk laksana simbol ketidakadilan atas hak istimewa yang diberikan kepada anak pemimpin. Di saat anak-anak lain harus bersusah payah untuk mencukupi kebutuhan makan unta miliknya, Abdullah Bin Umar mendapatkan area khusus, padang rumput lebat yang hanya diperuntukkan bagi unta milik anak pemimpin. Ketidakadilan tersebut tertuang dari pertanyaan, "Apakah jika anak-anak lain yang bukan anak pemimpin, akan mendapatkan kemudahan pelayanan dan akses yang sama?" Jika jawabannya, "Tidak," dapat dipastikan pencapaian unta gemuk tersebut adalah fasilitas khusus yang secara tidak adil diberikan hanya karena statusnya sebagai anak pemimpin.
Keistimewaan sebagai anak pemimpin memang tidak main-main. Barangkali jika Abdullah Bin Umar hidup di masa sekarang, ketika direkrut oleh sebuah organisasi, niscaya langsung mendapatkan jabatan ketua umum tanpa harus memulai kariernya dari nol. Tapi Umar tidak mengharapkan yang demikian, bahkan menentang bagi siapapun yang memperlakukan anaknya sebagai anak raja. Umar menghendaki anaknya sukses dari hasil usaha jerih payahnya sendiri secara adil, bukan berjalan di atas karpet merah tanpa susah payah karena dirinya seorang anak pemimpin.
Perlukah pemimpin kontemporer bercermin?


0 Komentar